Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak
bisa berhenti untuk mengingatnya. Ada rasa nyaman tersendiri walau hanya
sekejap melintasi. Aku bahkan tidak mampu menahan pertikaian yang ada didalam
diri. Pertikaian yang terjadi karena hati dan pikiran yang tidak searah. Hati
menuntutku untuk sadar bahwa diri ini
jauh sekali dengan nya. Sedangkan pikiran menyuruhku untuk bisa terus
menggapainya.
Tuhan, kali ini aku benar-benar bingung.
Ciptaan mu yang terlampau sempurna itu membuatku enggan untuk menutup diri
bahwa aku benar-benar menyukainya. Tidak kah engkau menciptakan cinta itu
sebagai rahmat untuk makhluk mu?. Tidak salahkan ketika makhluk mu ini
menyimpan rasa khusus kepadanya?. Bukan kah engkau lebih mengetahui nya dari
pada hamba mu ini?.
Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak
ingin mati syahid hanya karena aku tidak meluapkan bendungan rasa ini pada nya.
Seperti hal nya yang disabdakan oleh manusia yang paling engkau cintai. Beliau
bersabda yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Khatib Al-Baghdadi bahwa “Orang yang
merindu, namun mengekang diri dan menyembunyikan rasa cinta dan rindunya, itu tergolong sebagai mati syahid”. Walau
ada yang mendhaifkan hadis ini seperti Imam Ibnu Al-Qayyim namun juga ada
bantahan mengenai hadis ini bahkan sampai mengarang kitab khusus yang berjudul
“Dar’u adh-Dahfi ‘An Haditsi Man ‘Asyiqa Fa’affa”. Sehingga menguatkan
kevalidan hadis ini. Kitab yang hanya berisi dua puluh pasal mengenai
bantahan-bantahan untuk Imam Ibnu al-Qayyim ini dikarang oleh Sayyid Ahmad bin
Shiddiq al-Ghumary.
Tuhan, kali ini aku benar-benar
menginginkannya. Aku hanya akan berusaha semampuku. Perihal semua nya akan ku
serahkan pada mu. Tapi tentunya selain aku berbekal taqwa sebagaimana yang
engkau suruh di surah al-Baqarah ayat 197 “Berbekallah, dan sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah taqwa”. maka anugerah mu yang berupa kekuatan
harus lah engkau berikan agar aku bisa berjuang hingga garis akhir. Garis akhir
yang nantinya akan menentukan semua di masa yang akan datang. Masa dimana aku
akan kembali hidup selamanya.
Tuhan, kali ini aku benar-benar ingin
memilikinya. Ciptaan mu yang begitu indah itu menuntut ku untuk bisa menjadi
lebih dari hari ini. Tidakkah itu baik? Ketika salah satu orang yang engkau
kasihi bisa menjalankan peran nya dengan baik. Hanya dia yang mampu membuatku
tergerak untuk melupakan kelamnya masa lalu dan beranjak bangun memulainya dari
awal. Tidakkah itu baik? Ketika tak ada seorang pun sebelumnya yang bisa
melakukan itu.
Tuhan, kali ini aku benar-benar meminta.
Bukankah engkau yang menyatakan langsung di surah al-Mukmin ayat 60 yang
berbunyi “Berdoalah kepada-Ku, Niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. Aku
juga telah meminta dengan cara yang telah engkau tetapkan “Berdoalah kepada
tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut” di surah al-A’raf ayat
55. Dan aku pasti percaya terhadap permintaan ku karena engkau tidak pernah
ingkar sebagaimana engkau telah firmankan di surah ar-Rum ayat 6 “(Sebagai)
janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Tuhan, kali ini aku benar-benar memohon. Sebagaimana
memohonnya Nabi Adam ketika engkau turunkan ke muka bumi lalu engkau kabulkan
yang tertera di surah al-A’raf ayat 23. Juga sebagaimana doa nabi Yunus ketika
berada didalam perut ikan ada pada surah al-Anbiya ayat 87. Aku tau bahwa
dikabulkannya doa diatas tidak lah cepat bahkan begitu lama. Maka tidaklah
mengapa karena aku tidak menuntut untuk sekarang namun ketika sudah tepat
waktunya. Atau bahkan jika ada delik yang mengatakan bahwa doa diatas adalah
doa yang dilantunkan karena kesalahan yang Nabi perbuat. Maka tidaklah mengapa
mungkin aku telah bersalah karena menyukai salah satu hamba mu.
Tuhan, kali ini aku benar-benar bermunajat.
Semoga bisikan ini bisa langsung sampai kepadamu. Tanpa ada transit sekejap pun
di hamparan langit-langitmu Atau bahkan masih dikumpulkan oleh malaikat-malaikat penjaga
semestamu. Bisikan di bumi ini pasti bisa menembus langit dan arasy mu
sebagaimana telah disabdakan oleh Utusan mu yang mulia kemudian diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad “bahwa doa orang yang
berpuasa tidak akan tertolak dan pintu-pintu langit akan dibukakan”. Demikian
permohoan hamba mu, semoga dan semoga bisa terijabah dan terqobulkan. Tiada
tempat lain untuk meminta selain kepada engkau yang esa.