Kali ini aku tidak akan membela diri, perihal
rasa yang sudah jauh-jauh pergi namun entah mengapa tiba-tiba kembali tanpa aku
sadari dan tanpa aku ingini. Apakah aku salah?
Mungkin iya aku salah, kepada siapa rasa itu tertuju. seharusnya bukan
pada dia yang memang tidak pernah mengharapkan kehadiran dan keberadaan jiwa
maupun raga. Tetapi harusnya kepada dia yang bisa menghargai akan adanya eksistensi
diri ini. Perihal rasa, aku beranggapan bahwa rasa tidak pernah salah. Iya, tidak
pernah salah bahkan, karena ia adalah merupakan salah satu anugerah yang tuhan
beri kepada kita.
Aku salah telah memproklamasikan tentang apa
yang selama ini aku simpan baik-baik. Bahkan aku tidak pernah meminta kepada
tuhan agar rasa itu menjadi kalimat, yang kemudian keluar menjadi ungkapan yang
aku sendiri tidak pernah tau cara nya bagaimana agar ungkapan itu tidak menjadi
jurang pemisah antara aku dengan nya. Karena aku benar-benar tidak ingin hanya gara-gara rasa
yang tidak sepatutnya aku miliki pada nya menjadi hancurnya keberlangsungan
semesta ku.
Aku terlalu egois bukan? Hanya karena hal sepele
yang tidak seharusnya aku lakukan, benteng yang kubangun dengan sekuat tenaga
aku hancurkan dalam waktu sekejab mata. Ah memang penyesalan selalu mengahantui
dalam hal ini. Tidak bisa terelakkan, yang ada jika hal itu tidak pernah terungkap
aku tidak pernah tau bagaimana rasa nya sebuah ekspektasi yang menjulang tinggi yang kemudian aku sudah setengah jalan lalu aku jatuh dari ketinggian itu. Jangan
tanya perihal seberapa sakit, yang jelas sakit itu akan sendirinya sembuh
seiring berjalannya waktu. Begitu juga rasa itu akan ada masanya kembali ke
tempat asal.
Aku akan belajar dari salah ini, belajar
bagaimana menjaga rasa yang memang tidak ditakdirkan kepada dia yang kita tuju.
Agar semua terlihat baik-baik saja, yang hal itu mengajarkan ku untuk menjadi
pribadi yang bertanggung jawab, menerima kenyataan, dan tentu saja sadar akan
siapa sebarnya diri ini. Agak sulit memang terlihat baik-baik saja dalam
masalah ini, tapi bukankah aku sudah terlatih sejak dulu untuk tidak
menampakkan apa yang semesta ujikan? Iya
semoga saja kali ini semesta berpihak pada ku. Supaya jalan yang akan ku tempuh bisa
terlewati dengan baik.
Iya benar, bukan semesta nya yang tidak adil
tapi memang kita dituntut untuk
bersyukur dan pastinya kuat. Karena dalam berbuat sesuatu ada dua alasan untuk
bertahan yaitu memilih melanjutkan perjalanan atau balik kanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar