Selasa, 25 Mei 2021

Iya Aku Salah


Kali ini aku tidak akan membela diri, perihal rasa yang sudah jauh-jauh pergi namun entah mengapa tiba-tiba kembali tanpa aku sadari dan tanpa aku ingini. Apakah aku salah?  Mungkin iya aku salah, kepada siapa rasa itu tertuju. seharusnya bukan pada dia yang memang tidak pernah mengharapkan kehadiran dan keberadaan jiwa maupun raga. Tetapi harusnya kepada dia yang bisa menghargai akan adanya eksistensi diri ini. Perihal rasa, aku beranggapan bahwa rasa tidak pernah salah. Iya, tidak pernah salah bahkan, karena ia adalah merupakan salah satu anugerah yang tuhan beri kepada  kita.

Aku salah telah memproklamasikan tentang apa yang selama ini aku simpan baik-baik. Bahkan aku tidak pernah meminta kepada tuhan agar rasa itu menjadi kalimat, yang kemudian keluar menjadi ungkapan yang aku sendiri tidak pernah tau cara nya bagaimana agar ungkapan itu tidak menjadi jurang pemisah antara aku dengan nya. Karena aku  benar-benar tidak ingin hanya gara-gara rasa yang tidak sepatutnya aku miliki pada nya menjadi hancurnya keberlangsungan semesta ku.

Aku terlalu egois bukan? Hanya karena hal sepele yang tidak seharusnya aku lakukan, benteng yang kubangun dengan sekuat tenaga aku hancurkan dalam waktu sekejab mata. Ah memang penyesalan selalu mengahantui dalam hal ini. Tidak bisa terelakkan, yang ada jika hal itu tidak pernah terungkap aku tidak pernah tau bagaimana rasa nya sebuah ekspektasi yang menjulang tinggi yang kemudian aku sudah setengah jalan lalu aku jatuh dari ketinggian itu. Jangan tanya perihal seberapa sakit, yang jelas sakit itu akan sendirinya sembuh seiring berjalannya waktu. Begitu juga rasa itu akan ada masanya kembali ke tempat asal.

Aku akan belajar dari salah ini, belajar bagaimana menjaga rasa yang memang tidak ditakdirkan kepada dia yang kita tuju. Agar semua terlihat baik-baik saja, yang hal itu mengajarkan ku untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menerima kenyataan, dan tentu saja sadar akan siapa sebarnya diri ini. Agak sulit memang terlihat baik-baik saja dalam masalah ini, tapi bukankah aku sudah terlatih sejak dulu untuk tidak menampakkan apa yang semesta ujikan?  Iya semoga saja kali ini semesta berpihak pada ku. Supaya jalan yang akan ku tempuh bisa terlewati dengan baik.

Iya benar, bukan semesta nya yang tidak adil tapi  memang kita dituntut untuk bersyukur dan pastinya kuat. Karena dalam berbuat sesuatu ada dua alasan untuk bertahan yaitu memilih melanjutkan perjalanan atau balik kanan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...