Sabtu, 27 Mei 2023

About Homeland

 Kampung adalah tempat tinggal yang sangat nyaman bagi para perindu ketenangan. Tenang dari segala hiruk-pikuk kehidupan kota yang mungkin telah tergambar nyata dibenak semua orang. Kampung tempat yang membawa kedamaian ketentraman untuk seluruh kalangan. Bukan hanya karena atmosfer kehidupan yang sederhana  tetapi juga kerukunan antar suku patut ditiru oleh semua kalangan.

Kali ini aku akan mengenalkan pada semua orang tentang kehidupan kampung halaman ku yang dulu. Di kampungku terdapat beberapa suku yang mewarnai kehidupan sehari-hari tepatnya beralamatkan di desa Retok Majau, kecamatan Sebangki, kabupaten Landak desa, desa Kubu Padi. Namun sekarang sudah berubah menjadi desa Retok, karena ada pemekaran wilayah tepatnya di parit Pak Sela. Tapi desa ini beda kabupaten walaupun jaraknya berdekatan, desa ini di kabupaten Kubu Raya, kecamatan Kuala Mandor B. Mengapa dua kampung ini yang ku deskripsikan? Karena di situlah aku menghabiskan masa kecilku sebelum pindah kealamat yang sekarang.

Desa tersebut sangat jauh dari pusat kota pontianak, perlu waktu sekitaran 3-5 jam jika ditempuh dengan motor air. Namun akan memakan waktu sekitaran 2 jam-an jika ditempuh melalui jalur darat menggunakan motor. Seiiring berkembangnya teknologi dan kesadaraan masyarakat akan perlunya akses yang nyaman serta lebih cepat untuk pergi ke kota.

Maka transportasi menggunakan motor air sudah tidak banyak yang memakai jasa ini, dengan alasan terlalu lama menghabiskan waktu dan juga ongkos yang tidak lagi bersahabat. Namun jalur darat ini bisa dikatakan belum layak untuk menjadi jalur utama dikarenakan infrastruktur jalan yang belum memadai dari berbagai bidang. Jalan ini pun sebenarnya dulu belum ada namun setelah dibangunnya PT kelapa Sawit maka barulah akses jalan ini ditemukan dan bisa dilewati oleh semua kalangan.

Jika hujan jalanan akan banjir disertai banyak danau-danau yang menghiasi jalan tersebut dan butuh waktu yang lama air itu untuk surut. Jikalau musim kemarau datang debu berhamburan ke seantero langit yang membentang. Mengapa demikian? Karena jalan ini masih belum beraspal atau dibeton, jalan ini masih berlapiskan tanah kuning tidak rata dan berlubang-lubang disepanjang jalannya.

Mereka terkumpul dalam dua suku yaitu suku madura dan suku dayak, suku dayak dominan bertempat  tinggal dipesisir sungai dan untuk suku madura sendiri mereka berada di dalam kampung. Walaupun dulu sempat terjadi kerusuhan antara dua suku tersebut di sekitaran tahun 1999-2000 namun sekarang sudah keadaan sudah kembali pulih seperti sedia kala.  Kini yang mereka lakukan sekarang adalah saling menjaga kerukunan dan kedamaian disetiap sudut perkampungan.

Untuk mewujudkan tujuan diatas maka dibuatlah ketua adat dari masing-masing suku dengan menyetujui aturan-aturan yang telah dibuat bersama. Kesepakatan tersebut antara lain adalah tidak boleh membuat kerusuhan yang mengakibatkan perpecahan antara kedau belah pihak. Tidak boleh saling mengganggu kehidupan sehari-hari bagi kedua suku tersebut. Jika itu dilanggar maka akan dikenakan sangsi berupa membayar denda uang yang telah di tentukan atau biasannya lebih dikenal dengan adat.

Sebenarnya kata adat ini adalah sebuah istilah orang dayak jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran yang dibuat oleh temengung atau pimpinan ketua masyarakat didesa tersebut. Namun belakangan ini semenjak adanya perjanjian antara kedua belah pihak kata adat ini menjadi familiar dan menjadi hal yang sakral dan ditakuti oleh masyarakat disana.

Selanjutnya aku akan membahas tentang  sifat toleransi mereka. Toleransi yang akan aku jelaskan disini adalah cara mereka saling menghormati dari semua aspek kehidupan. Mungkin jika contoh umum semisal menjaga kondusifitas saat beribadah dihari besar mereka itu sudah sering terjadi dibanyak daerah dan kota-kota besar di indonesia ini. Namun contoh yang akan saya ambil disini adalah saat hari raya  idul fitri atau biasanya dikenal lebaran disuku madura mengajak suku dayak untuk juga ikut bersilaturahim kerumah-rumah mereka. Sebaliknya ketika hari natal atau cap gomeh masyarakat dayak pun mengundang masyarakat madura untuk pergi kerumah mereka.

Begitu juga ketika suku dayak meminjamkan lahan nya kepada suku madura untuk digarap dan ditanami berbagai tanaman untuk mereka bertahan hidup bahkan tanpa membayar pajak atau sewa sekalipun. Disini akan aku jelaskan juga mengapa dari suku dayak bisa meminjamkan lahan mereka. Setelah saya melakukan riset dan bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar mereka menjawab “lahan mereka banyak dikarenakan masyarakat dayak adalah orang asal penghuni wilayah disini.” 

Hubungan sosial antara kedua suku tersebut memang perlu dijadikan sebuah barometer bagi  umat lainnya agar tercipta suatu desa yang aman tertib dan damai. Karena jika ada yang melanggar dari perjanjian yang telah disepakati adalah sebuah pencorengan nama baik bagi suku tersebut. Sehingga menuntut mereka untuk saling menjaga keberlangsungan hidup yang baik. 

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...