Kampung adalah tempat tinggal yang sangat nyaman bagi para perindu ketenangan. Tenang dari segala hiruk-pikuk kehidupan kota yang mungkin telah tergambar nyata dibenak semua orang. Kampung tempat yang membawa kedamaian ketentraman untuk seluruh kalangan. Bukan hanya karena atmosfer kehidupan yang sederhana tetapi juga kerukunan antar suku patut ditiru oleh semua kalangan.
Kali ini aku akan
mengenalkan pada semua orang tentang kehidupan kampung halaman ku yang dulu. Di
kampungku terdapat beberapa suku yang mewarnai kehidupan sehari-hari tepatnya
beralamatkan di desa Retok Majau, kecamatan Sebangki, kabupaten Landak desa, desa Kubu Padi. Namun sekarang sudah berubah menjadi desa Retok, karena ada pemekaran
wilayah tepatnya di parit Pak Sela. Tapi desa ini beda
kabupaten walaupun jaraknya berdekatan, desa ini di kabupaten Kubu Raya, kecamatan Kuala Mandor B. Mengapa dua kampung ini yang ku deskripsikan? Karena di situlah aku menghabiskan
masa kecilku sebelum pindah kealamat yang sekarang.
Desa tersebut sangat jauh
dari pusat kota pontianak, perlu waktu sekitaran 3-5 jam jika ditempuh
dengan motor air. Namun akan memakan waktu sekitaran 2 jam-an jika ditempuh melalui jalur darat
menggunakan motor. Seiiring berkembangnya teknologi dan kesadaraan masyarakat
akan perlunya akses yang nyaman serta lebih cepat untuk pergi ke kota.
Maka transportasi
menggunakan motor air sudah tidak banyak yang memakai jasa ini, dengan alasan terlalu lama menghabiskan waktu dan juga
ongkos yang tidak lagi bersahabat. Namun jalur darat ini bisa dikatakan belum layak untuk
menjadi jalur utama dikarenakan infrastruktur jalan yang belum memadai dari
berbagai bidang. Jalan ini pun sebenarnya dulu belum ada namun
setelah dibangunnya PT kelapa Sawit maka barulah akses jalan ini ditemukan dan
bisa dilewati oleh semua kalangan.
Jika hujan jalanan akan
banjir disertai banyak danau-danau yang menghiasi jalan tersebut dan butuh
waktu yang lama air itu untuk surut. Jikalau musim
kemarau datang debu berhamburan ke seantero langit yang
membentang. Mengapa demikian? Karena jalan ini masih belum beraspal atau dibeton, jalan
ini masih berlapiskan tanah kuning tidak rata dan berlubang-lubang disepanjang
jalannya.
Mereka terkumpul dalam dua
suku yaitu suku madura dan suku dayak, suku dayak dominan bertempat tinggal dipesisir sungai dan untuk suku
madura sendiri mereka berada di dalam kampung. Walaupun dulu sempat terjadi
kerusuhan antara dua suku tersebut di sekitaran tahun 1999-2000 namun sekarang
sudah keadaan sudah kembali pulih seperti sedia kala. Kini yang mereka lakukan sekarang adalah
saling menjaga kerukunan dan kedamaian disetiap sudut perkampungan.
Untuk mewujudkan tujuan
diatas maka dibuatlah ketua adat dari masing-masing suku dengan menyetujui
aturan-aturan yang telah dibuat bersama. Kesepakatan tersebut antara lain adalah tidak boleh membuat kerusuhan yang mengakibatkan
perpecahan antara kedau belah pihak. Tidak boleh saling
mengganggu kehidupan sehari-hari bagi kedua suku tersebut. Jika itu dilanggar maka akan dikenakan sangsi berupa
membayar denda uang yang telah di tentukan atau biasannya lebih dikenal dengan
adat.
Sebenarnya kata adat ini
adalah sebuah istilah orang dayak jika salah satu dari mereka melakukan
kesalahan atau pelanggaran yang dibuat oleh temengung atau pimpinan ketua
masyarakat didesa tersebut. Namun belakangan ini semenjak adanya perjanjian
antara kedua belah pihak kata adat ini menjadi familiar dan menjadi hal yang
sakral dan ditakuti oleh masyarakat disana.
Selanjutnya aku akan
membahas tentang sifat toleransi mereka.
Toleransi yang akan aku jelaskan disini adalah cara mereka saling menghormati
dari semua aspek kehidupan. Mungkin jika contoh umum semisal menjaga
kondusifitas saat beribadah dihari besar mereka itu sudah sering terjadi
dibanyak daerah dan kota-kota besar di indonesia ini. Namun contoh yang akan saya ambil disini adalah
saat hari raya idul fitri atau biasanya
dikenal lebaran disuku madura mengajak suku dayak untuk juga ikut
bersilaturahim kerumah-rumah mereka. Sebaliknya ketika hari natal atau cap
gomeh masyarakat dayak pun mengundang masyarakat madura untuk pergi kerumah
mereka.
Begitu juga ketika suku
dayak meminjamkan lahan nya kepada suku madura untuk digarap dan ditanami
berbagai tanaman untuk mereka bertahan hidup bahkan tanpa membayar pajak atau
sewa sekalipun. Disini akan aku jelaskan juga mengapa dari suku dayak bisa
meminjamkan lahan mereka. Setelah saya melakukan riset dan bertanya-tanya
kepada masyarakat sekitar mereka menjawab “lahan mereka banyak dikarenakan
masyarakat dayak adalah orang asal penghuni wilayah disini.”