Sebelum hari itu datang aku pikir semuanya
seperti baik-baik saja. tidak ada yang ku khawatirkan. iya boleh dibilang
layaknya butiran hujan yang terjun bebas ke bumi, tak ada yang menghambatnya. Ia
langsung turun lalu diserap oleh bumi.
Sungguh aku tidak benar-benar serius dengan apa yang aku katakan. Karena sekali
lagi aku tersadar bahwa jangankan menyentuh, untuk hanya sekedar mendekat saja aku berfikir seribu kali. Iya aku takut kehilangan dia seutuhnya jika aku
melakukan hal itu. Aku jauh bahkan jauh
sekali tentunya seorang yang seperti diriku tidak akan mungkin bisa
membersamai seorang yang berakhlak mulia. Tentu nya itu mimpi bukan...?
Hari itu dia menjawab “ sudah menjadi apa yang
Allah mau belum.?” Ketika aku bertanya “suami seperti apasih yang engkau mau.?”.
Pertanyaan yang tidak asing pada masa itu, ya karena itu sudah menjadi trending
topik di beberapa media sosial. Kemudian aku menjawab “ aku yakin bahwa yang
engkau mau sudah pasti sama dengan yang Allah mau.” Tentunya iya tidak akan mau
mempunyai seorang pendamping yang bertentangan dengan tuhannya bukan..?
Lantas dia enggan menjawab dan memilih pergi
lalu menjauh sekali lagi sejak kala itu.