Selasa, 17 November 2020

Sebelum Hari Itu

 

    Sebelum hari itu datang aku pikir semuanya seperti baik-baik saja. tidak ada yang ku khawatirkan. iya boleh dibilang layaknya butiran hujan yang terjun bebas ke bumi, tak ada yang menghambatnya. Ia langsung turun lalu diserap oleh bumi.

    Kira-kira begitu siklus iklim nya. Skenario yang kujalani pun tak jauh beda dengan itu. Sampai akhirnyahari itu datang. Siapa sangka sejak kejadian itu atmosphere berubah drastis. Yang kutahu hanyalah candaan itu sebagai awal silaturahim setelah lumayan lama mengosongkan lembaran diskusi tentang pencapaian masing-masing. Iya untuk saling berlomba dalam kebaikan makanya saling bercerita nikmat-nikmat yang telah dianugrahi.

    Sungguh aku tidak benar-benar serius  dengan apa yang aku katakan. Karena sekali lagi aku tersadar bahwa jangankan menyentuh, untuk hanya sekedar mendekat saja aku berfikir seribu kali. Iya aku takut kehilangan dia seutuhnya jika aku melakukan  hal itu. Aku jauh bahkan jauh sekali tentunya seorang yang seperti diriku tidak akan mungkin bisa membersamai seorang yang berakhlak mulia. Tentu nya itu mimpi bukan...?

    Hari itu dia menjawab “ sudah menjadi apa yang Allah mau belum.?” Ketika aku bertanya “suami seperti apasih yang engkau mau.?”. Pertanyaan yang tidak asing pada masa itu, ya karena itu sudah menjadi trending topik di beberapa media sosial. Kemudian aku menjawab “ aku yakin bahwa yang engkau mau sudah pasti sama dengan yang Allah mau.” Tentunya iya tidak akan mau mempunyai seorang pendamping yang bertentangan dengan tuhannya bukan..?

    Lantas dia enggan menjawab dan memilih pergi lalu menjauh sekali lagi sejak kala itu.

 

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...