Kamis, 05 Oktober 2023

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa-jiwa manusia yang lemah agar tumbang dan enggan kembali melanjutkan hidupnya. Meskipun demikian tidaklah menjadi persoalan serius untuk menyikapi fenomena itu. Sebab yang perlu kita lakukan adalah dengan mencoba melewati. Perihal teratasi maka kita harus sadar bahwa manusia hanya dibekali kekuatan bukan pengabulan.

Maka langkah selanjutnya adalah manusia harus bisa merogoh beberapa keegoannya untuk menjalin kembali hubungan dengan entitas tertinggi. Secara tidak langsung manusia dituntut agar mengakui sisi kelemahan yang dia miliki. Memang sebaiknya sisi kelemahan yang tertanam hendaklah tidak dipertontonkan kepada manusia lainnya. Jika hal itu sudah terjadi, maka manusia itu harus dapat menyumbat lubang-lubang itu secara perlahan dengan sesekali menunjukkan jika ia telah terbebas dari belenggu itu.

Memang dalam beberapa persoalan manusia tidak memerlukan pertolongan ghaib. Karena saat itu ia sedang diuji seberapa kuat energi yang telah diberikan digunakan dengan baik. Wajar saat yang ghaib itu ingin melihat apakah sia-sia atau tidak anugerah yang masih dilekatkan hingga sekarang. Kemudian tidak lupa pula jika terkadang ia ingin manusia terus memaksa. Adapun penyebabnya adalah ia ingin selalu diingat bahwa hanya kepadanya lah semua kembali.

Dengan segala yang dilimpahkan itu. Jadi hendaklah manusia berdamai dengan keadaan. hanya dengan cara itu manusia akan bisa menerima segala skenario yang dijalankan oleh malaikat atas perintah ghaib itu. Tentu saja ini semua merupakan dinamika yang harus manusia lewati. 

Sabtu, 27 Mei 2023

About Homeland

 Kampung adalah tempat tinggal yang sangat nyaman bagi para perindu ketenangan. Tenang dari segala hiruk-pikuk kehidupan kota yang mungkin telah tergambar nyata dibenak semua orang. Kampung tempat yang membawa kedamaian ketentraman untuk seluruh kalangan. Bukan hanya karena atmosfer kehidupan yang sederhana  tetapi juga kerukunan antar suku patut ditiru oleh semua kalangan.

Kali ini aku akan mengenalkan pada semua orang tentang kehidupan kampung halaman ku yang dulu. Di kampungku terdapat beberapa suku yang mewarnai kehidupan sehari-hari tepatnya beralamatkan di desa Retok Majau, kecamatan Sebangki, kabupaten Landak desa, desa Kubu Padi. Namun sekarang sudah berubah menjadi desa Retok, karena ada pemekaran wilayah tepatnya di parit Pak Sela. Tapi desa ini beda kabupaten walaupun jaraknya berdekatan, desa ini di kabupaten Kubu Raya, kecamatan Kuala Mandor B. Mengapa dua kampung ini yang ku deskripsikan? Karena di situlah aku menghabiskan masa kecilku sebelum pindah kealamat yang sekarang.

Desa tersebut sangat jauh dari pusat kota pontianak, perlu waktu sekitaran 3-5 jam jika ditempuh dengan motor air. Namun akan memakan waktu sekitaran 2 jam-an jika ditempuh melalui jalur darat menggunakan motor. Seiiring berkembangnya teknologi dan kesadaraan masyarakat akan perlunya akses yang nyaman serta lebih cepat untuk pergi ke kota.

Maka transportasi menggunakan motor air sudah tidak banyak yang memakai jasa ini, dengan alasan terlalu lama menghabiskan waktu dan juga ongkos yang tidak lagi bersahabat. Namun jalur darat ini bisa dikatakan belum layak untuk menjadi jalur utama dikarenakan infrastruktur jalan yang belum memadai dari berbagai bidang. Jalan ini pun sebenarnya dulu belum ada namun setelah dibangunnya PT kelapa Sawit maka barulah akses jalan ini ditemukan dan bisa dilewati oleh semua kalangan.

Jika hujan jalanan akan banjir disertai banyak danau-danau yang menghiasi jalan tersebut dan butuh waktu yang lama air itu untuk surut. Jikalau musim kemarau datang debu berhamburan ke seantero langit yang membentang. Mengapa demikian? Karena jalan ini masih belum beraspal atau dibeton, jalan ini masih berlapiskan tanah kuning tidak rata dan berlubang-lubang disepanjang jalannya.

Mereka terkumpul dalam dua suku yaitu suku madura dan suku dayak, suku dayak dominan bertempat  tinggal dipesisir sungai dan untuk suku madura sendiri mereka berada di dalam kampung. Walaupun dulu sempat terjadi kerusuhan antara dua suku tersebut di sekitaran tahun 1999-2000 namun sekarang sudah keadaan sudah kembali pulih seperti sedia kala.  Kini yang mereka lakukan sekarang adalah saling menjaga kerukunan dan kedamaian disetiap sudut perkampungan.

Untuk mewujudkan tujuan diatas maka dibuatlah ketua adat dari masing-masing suku dengan menyetujui aturan-aturan yang telah dibuat bersama. Kesepakatan tersebut antara lain adalah tidak boleh membuat kerusuhan yang mengakibatkan perpecahan antara kedau belah pihak. Tidak boleh saling mengganggu kehidupan sehari-hari bagi kedua suku tersebut. Jika itu dilanggar maka akan dikenakan sangsi berupa membayar denda uang yang telah di tentukan atau biasannya lebih dikenal dengan adat.

Sebenarnya kata adat ini adalah sebuah istilah orang dayak jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran yang dibuat oleh temengung atau pimpinan ketua masyarakat didesa tersebut. Namun belakangan ini semenjak adanya perjanjian antara kedua belah pihak kata adat ini menjadi familiar dan menjadi hal yang sakral dan ditakuti oleh masyarakat disana.

Selanjutnya aku akan membahas tentang  sifat toleransi mereka. Toleransi yang akan aku jelaskan disini adalah cara mereka saling menghormati dari semua aspek kehidupan. Mungkin jika contoh umum semisal menjaga kondusifitas saat beribadah dihari besar mereka itu sudah sering terjadi dibanyak daerah dan kota-kota besar di indonesia ini. Namun contoh yang akan saya ambil disini adalah saat hari raya  idul fitri atau biasanya dikenal lebaran disuku madura mengajak suku dayak untuk juga ikut bersilaturahim kerumah-rumah mereka. Sebaliknya ketika hari natal atau cap gomeh masyarakat dayak pun mengundang masyarakat madura untuk pergi kerumah mereka.

Begitu juga ketika suku dayak meminjamkan lahan nya kepada suku madura untuk digarap dan ditanami berbagai tanaman untuk mereka bertahan hidup bahkan tanpa membayar pajak atau sewa sekalipun. Disini akan aku jelaskan juga mengapa dari suku dayak bisa meminjamkan lahan mereka. Setelah saya melakukan riset dan bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar mereka menjawab “lahan mereka banyak dikarenakan masyarakat dayak adalah orang asal penghuni wilayah disini.” 

Hubungan sosial antara kedua suku tersebut memang perlu dijadikan sebuah barometer bagi  umat lainnya agar tercipta suatu desa yang aman tertib dan damai. Karena jika ada yang melanggar dari perjanjian yang telah disepakati adalah sebuah pencorengan nama baik bagi suku tersebut. Sehingga menuntut mereka untuk saling menjaga keberlangsungan hidup yang baik. 

Minggu, 30 Mei 2021

Biarkan Takdir Menyelesaikan Sendiri Tugasnya

 

Selalu ada cara takdir mempertemukan. Begitu juga untuk memisahkan. Kita hanya perlu bersabar dan mengikhlaskan mengenai skenario yang didalam nya kita menjadi aktor utama. Bersabar ketika masih belum dipertemukan dan mengikhlaskan ketika memang dituntut untuk berpisah. Atau bahkan ketika takdir berbicara lain, Ia tidak mempertemukan juga tidak memisahkan. Maka tuhan ciptakan kata sabar adalah untuk menguji manusia untuk bisa mengikhlaskan dan menyimpan ikhlas di hati manusia untuk bisa bersabar akan apa yang menjadi bagian dari hukum semesta. Karena sejatinya tidak akan pernah ada yang abadi di tempat persinggahan ini.

Untuk itu jangan pernah risau perihal ketentuan ini. Semesta tau tentang keinginan mu yang begitu besar untuk bertemu dengannya. Ia juga tau bahwa kau bukan hanya sekedar ingin melihat senyumnya. Tetapi juga ingin membawa pulang suaranya, suara yang membuat mu lupa akan kejamnya dunia. Bahkan semesta juga tau bahwa engkau ingin memiliki dan menjadikan nya sebagai surga bagi anak-anakmu. Iya, semesta sudah tau jauh sebelum engkau bisa melihat betapa luasnya langit biru. Mungkin bagi mu dia yang terbaik setelah sekian jauh jalan yang telah ditempuh untuk mencari penyempurna separuh agama. Akan tetapi sudah ada seseorang yang telah dipersiapkan oleh semesta dan dia adalah orang yang paling terbaik untuk kau jadikan seorang yang “Qurruta ‘a’yun” di kehidupanmu.

Tuhan selalu mempunyai rencana lain untuk membuat hambanya semakin bersyukur dengan segala nikmat yang tidak ada hentinya menyelimuti. Perihal dia yang telah pergi, mungkin itu bagian dari rencana tuhan, rencana yang nantinya membuat mu lebih kuat dalam menerima realita hidup yang tak melulu berpihak pada dirimu. Dia mengajarkan mu untuk bisa berdamai dengan keadaan yang tidak selalu membela kesalahanmu. Maka tetaplah melangkah maju walau berbeda arah, biarkan dia menjadi patah hati terhebatmu yang kemudian nantinya menjadi awal dari kebahagiaan mu yang baru.

Karena hidup adalah tentang bagaimana engkau melangkah kedepan, yang telah berlalu biarkan ia menjadi penerangmu dalam gelapnya dunia yang akan datang. Pasti akan ada limpahan kecewa yang mendera, ambillah yang baik dan simpan ia sebagai pelipur lara. Tidak ada gunanya menyesali yang  terjadi jarang ada kesempatan kedua untuk memperbaiki semesta tidak sebaik itu pada engkau yang selalu mengeluh. Jadi bersabarlah semua akan indah pada saat nya.

Selasa, 25 Mei 2021

Tell Everyhting To The Sky They Will Hear You

 

Membuang-buang waktu untuk selalu mencari tahu akan dirinya adalah sesuatu yang mungkin aneh untuk didengar. Namun nyatanya begitulah jika engkau sedang dirundung rasa ingin tahu lebih dalam terhadap sesuatu yang engkau sendiri ingin memillikinya. Tapi tidak kan itu perbuatan yang sia-sia.? Atau bahkan perbuatan yang sangat bodoh. Kurasa tidak demikian  orang yang beranggapan demikian adalah orang yang belum pernah merasakan hal yang sama. Ia belum pernah berada di posisi yang  sedang engkau alami.

Tenang lah ada banyak orang di luar sana yang senasib dengan mu dalam hal menyimpan secercah keinginan pada seseorang yang sangat di impikannya. Namun untuk selalu berharap tanpa  henti bukan lah sesuatu yang baik. Karena pada dasarnya hanya orang-orang yang tidak yakin terhadap apa yang  tuhannya suruh. Tidak ada tempat berharap kecuali hanya pada diri-Nya. Boleh berharap kepada sesama manusia melainkan hanya sedikit saja. Yang pada intinya manusia hanya bisa berencana dan berusaha selebihnya tuhanlah yang bertindak untuk memberi yang terbaik bagi orang-orang itu.

Engkau sedang berada dalam titik dimana kisahmu akan segera berakhir setelah engaku tahu bahwa memang tidak baik menaruh harapan kepada sesama makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah. Lemah dan tak berdaya tapi ada dari mereka yang benar-benar mecoba untuk kuat untuk melawan takdir. Iya mereka hanya berusaha untuk kuat. Orang-orang  yang kuat menurut Insan Kamil adalah orang yang mampu menahan amarah. Selebihnya yaitu orang  yang kuat adalah menang berperang melawan hawa nafsu.

Tundukkan lah kepalamu sejenak dan coba engkau fikir kembali tidakkah mengharap sesuatu yang tidak pasti adalah perbuatan sia-sia. Buanglah rasa itu campakkan sejauh mungkin sampai engkau tidak mampu menggapainya lagi. Engkau terlalu lemah hanya untuk menahan pedihnya harapan itu. Sudahlah masih banyak bukan orang diluar belahan bumi disana yang mungkin butuh untuk engkau kuatkkan saat mereka  lemah  sepertimu. Bukan kah engkau orang yang hebat dalam hal itu.?

Tegakkan lah kepala mu ceritakanlah kepada penghuni langit bahwa dirimu baik-baik saja. Walau sebenarnya engkau sedang rapuh, sangat rapuh sekali. Ceritakan juga pada penghuni langit bahwa engkau akan berjanji untuk tidak lagi menyimpan  harapan lagi selain pada-Nya. Tengadahkan tangan mu sejenak angkatlah dan meminta lah engkau untuk diberi  kekuatan agar  bisa melawati semua yang telah dipersiapakan padamu.

Sebenarnya engaku tidak pernah kehilangan karena sejatinya engkau tidak pernah memilikinya. Ingatlah hidupmu terlalu singkat hanya untuk sekedar berharap kepada seorang yang tidak pernah  menganggap mu ada.

Iya Aku Salah


Kali ini aku tidak akan membela diri, perihal rasa yang sudah jauh-jauh pergi namun entah mengapa tiba-tiba kembali tanpa aku sadari dan tanpa aku ingini. Apakah aku salah?  Mungkin iya aku salah, kepada siapa rasa itu tertuju. seharusnya bukan pada dia yang memang tidak pernah mengharapkan kehadiran dan keberadaan jiwa maupun raga. Tetapi harusnya kepada dia yang bisa menghargai akan adanya eksistensi diri ini. Perihal rasa, aku beranggapan bahwa rasa tidak pernah salah. Iya, tidak pernah salah bahkan, karena ia adalah merupakan salah satu anugerah yang tuhan beri kepada  kita.

Aku salah telah memproklamasikan tentang apa yang selama ini aku simpan baik-baik. Bahkan aku tidak pernah meminta kepada tuhan agar rasa itu menjadi kalimat, yang kemudian keluar menjadi ungkapan yang aku sendiri tidak pernah tau cara nya bagaimana agar ungkapan itu tidak menjadi jurang pemisah antara aku dengan nya. Karena aku  benar-benar tidak ingin hanya gara-gara rasa yang tidak sepatutnya aku miliki pada nya menjadi hancurnya keberlangsungan semesta ku.

Aku terlalu egois bukan? Hanya karena hal sepele yang tidak seharusnya aku lakukan, benteng yang kubangun dengan sekuat tenaga aku hancurkan dalam waktu sekejab mata. Ah memang penyesalan selalu mengahantui dalam hal ini. Tidak bisa terelakkan, yang ada jika hal itu tidak pernah terungkap aku tidak pernah tau bagaimana rasa nya sebuah ekspektasi yang menjulang tinggi yang kemudian aku sudah setengah jalan lalu aku jatuh dari ketinggian itu. Jangan tanya perihal seberapa sakit, yang jelas sakit itu akan sendirinya sembuh seiring berjalannya waktu. Begitu juga rasa itu akan ada masanya kembali ke tempat asal.

Aku akan belajar dari salah ini, belajar bagaimana menjaga rasa yang memang tidak ditakdirkan kepada dia yang kita tuju. Agar semua terlihat baik-baik saja, yang hal itu mengajarkan ku untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menerima kenyataan, dan tentu saja sadar akan siapa sebarnya diri ini. Agak sulit memang terlihat baik-baik saja dalam masalah ini, tapi bukankah aku sudah terlatih sejak dulu untuk tidak menampakkan apa yang semesta ujikan?  Iya semoga saja kali ini semesta berpihak pada ku. Supaya jalan yang akan ku tempuh bisa terlewati dengan baik.

Iya benar, bukan semesta nya yang tidak adil tapi  memang kita dituntut untuk bersyukur dan pastinya kuat. Karena dalam berbuat sesuatu ada dua alasan untuk bertahan yaitu memilih melanjutkan perjalanan atau balik kanan.

 

 

Minggu, 25 April 2021

My Proposal Project To God

 Tuhan, kali ini aku benar-benar mengagumi ciptaan mu itu. Begitu indah engkau mengukirnya sampai mata ini tak mampu untuk berhenti menatap. Ada kedamaian tersendiri yang menyelimuti hati. Begitu lurus jalan yang engkau berikan hingga bisa menjadi impian semua orang. Iya semua orang tentu ingin menjadi atau bahkan ingin memiliki. Bagaimana tidak, ciptaan mu itu sungguh sangat terlihat sempurna ketika engkau titipi amanah yang begitu besar bahkan tidak semua orang mampu menggenggamnya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak bisa berhenti untuk mengingatnya. Ada rasa nyaman tersendiri walau hanya sekejap melintasi. Aku bahkan tidak mampu menahan pertikaian yang ada didalam diri. Pertikaian yang terjadi karena hati dan pikiran yang tidak searah. Hati menuntutku untuk sadar bahwa  diri ini jauh sekali dengan nya. Sedangkan pikiran menyuruhku untuk bisa terus menggapainya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar bingung. Ciptaan mu yang terlampau sempurna itu membuatku enggan untuk menutup diri bahwa aku benar-benar menyukainya. Tidak kah engkau menciptakan cinta itu sebagai rahmat untuk makhluk mu?. Tidak salahkan ketika makhluk mu ini menyimpan rasa khusus kepadanya?. Bukan kah engkau lebih mengetahui nya dari pada hamba mu ini?.

Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak ingin mati syahid hanya karena aku tidak meluapkan bendungan rasa ini pada nya. Seperti hal nya yang disabdakan oleh manusia yang paling engkau cintai. Beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Khatib Al-Baghdadi bahwa “Orang yang merindu, namun mengekang diri dan menyembunyikan rasa cinta dan rindunya,  itu tergolong sebagai mati syahid”. Walau ada yang mendhaifkan hadis ini seperti Imam Ibnu Al-Qayyim namun juga ada bantahan mengenai hadis ini bahkan sampai mengarang kitab khusus yang berjudul “Dar’u adh-Dahfi ‘An Haditsi Man ‘Asyiqa Fa’affa”. Sehingga menguatkan kevalidan hadis ini. Kitab yang hanya berisi dua puluh pasal mengenai bantahan-bantahan untuk Imam Ibnu al-Qayyim ini dikarang oleh Sayyid Ahmad bin Shiddiq al-Ghumary.

Tuhan, kali ini aku benar-benar menginginkannya. Aku hanya akan berusaha semampuku. Perihal semua nya akan ku serahkan pada mu. Tapi tentunya selain aku berbekal taqwa sebagaimana yang engkau suruh di surah al-Baqarah ayat 197 “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. maka anugerah mu yang berupa kekuatan harus lah engkau berikan agar aku bisa berjuang hingga garis akhir. Garis akhir yang nantinya akan menentukan semua di masa yang akan datang. Masa dimana aku akan kembali hidup selamanya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar ingin memilikinya. Ciptaan mu yang begitu indah itu menuntut ku untuk bisa menjadi lebih dari hari ini. Tidakkah itu baik? Ketika salah satu orang yang engkau kasihi bisa menjalankan peran nya dengan baik. Hanya dia yang mampu membuatku tergerak untuk melupakan kelamnya masa lalu dan beranjak bangun memulainya dari awal. Tidakkah itu baik? Ketika tak ada seorang pun sebelumnya yang bisa melakukan itu.

Tuhan, kali ini aku benar-benar meminta. Bukankah engkau yang menyatakan langsung di surah al-Mukmin ayat 60 yang berbunyi “Berdoalah kepada-Ku, Niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. Aku juga telah meminta dengan cara yang telah engkau tetapkan “Berdoalah kepada tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut” di surah al-A’raf ayat 55. Dan aku pasti percaya terhadap permintaan ku karena engkau tidak pernah ingkar sebagaimana engkau telah firmankan di surah ar-Rum ayat 6 “(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Tuhan, kali ini aku benar-benar memohon. Sebagaimana memohonnya Nabi Adam ketika engkau turunkan ke muka bumi lalu engkau kabulkan yang tertera di surah al-A’raf ayat 23. Juga sebagaimana doa nabi Yunus ketika berada didalam perut ikan ada pada surah al-Anbiya ayat 87. Aku tau bahwa dikabulkannya doa diatas tidak lah cepat bahkan begitu lama. Maka tidaklah mengapa karena aku tidak menuntut untuk sekarang namun ketika sudah tepat waktunya. Atau bahkan jika ada delik yang mengatakan bahwa doa diatas adalah doa yang dilantunkan karena kesalahan yang Nabi perbuat. Maka tidaklah mengapa mungkin aku telah bersalah karena menyukai salah satu hamba mu.

Tuhan, kali ini aku benar-benar bermunajat. Semoga bisikan ini bisa langsung sampai kepadamu. Tanpa ada transit sekejap pun di hamparan langit-langitmu Atau bahkan masih dikumpulkan oleh malaikat-malaikat penjaga semestamu. Bisikan di bumi ini pasti bisa menembus langit dan arasy mu sebagaimana telah disabdakan oleh Utusan mu yang mulia kemudian diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad “bahwa doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak dan pintu-pintu langit akan dibukakan”. Demikian permohoan hamba mu, semoga dan semoga bisa terijabah dan terqobulkan. Tiada tempat lain untuk meminta selain kepada engkau yang esa.

Selasa, 20 April 2021

Air Memang Tidak Kuat Namun Ia Mampu Menenggelamkan

  Untuk ku perihal segala rasa yang sedang berlayar namun masih terombang-ambing di tengah samudera, bersabarlah akan ada masa nya ia akan menepi atau bahkan karam di lautan yang tak bertepi. Kita hanya perlu waktu  menunggu ia letih untuk mengarungi luasnya samudera itu yang pada akhirnya akan menyerah karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan tersebut. Aku tak ingin lagi melihat matahari terbenam di langit yang cerah sehingga membuat senja yang sangat indah namun hanya sesaat, walau aku tau itu  pertanda bahwa semua yang indah hanya akan terjadi dalam waktu yang singkat. Namun alangkah kejamnya aku terhadap diriku ini, aku dituntut untuk menuruti prinsip ku yang keras agar bisa menjaga marwah hidup. Aku lihat kembali langit yang membentang sepanjang bola mata mampu untuk menangkap cerah hari  itu ada yang tak aku pahami dari semua ini adalah mengapa aku harus ada diposisi yang sangat tidak mengenakkan sedang sebelumnya aku masih betah berada di zona nyaman apa salahku..? apakah mungkin ini sebagian dari cara semesta untuk mengujiku ataukah ini bagian dari hukuman yang harus aku terima tanpa harus ada penjelasan terlebih dahulu  sehingga mau tak mau aku harus mengambil apa yang tak harus aku dapatkan. Aku tau dan mengerti bahwa semesta kadang suka bercanda walau kita tak siap dalam mengikuti atau mendengarkan candaan itu. Namun apa boleh buat semesta hanya menjalankan perintah.

Dan untuk kesekian kali nya kini aku merasa dipenjara dan diperbudak oleh perasaan yang kini sedang menyelimuti ku. Jiwa pun terkekang dan tak mampu untuk melawan dan memerangi bak hidupku sedang berada dimasa fatamorgana. Semuanya gelap tanpa seberkas cahaya pun yang menerangi disitulah ragaku dituntut menjadi pahlawan kesiangan untuk menjadikan dunia ku seakan-akan baik-baik saja. Sungguh tidak enak bukan.? Berpura-pura sedang baik-baik saja itu adalah hal yang sangat membosankan bahkan itu adalah hal yang sangat bodoh jika dipikirkan kembali. Lantas mengapa aku harus menjani semua ini. Aku tidak bisa, aku tidak siap. Sejujurnya, aku jika bisa memilih. Maka,  aku akan diam diantara kerumunan orang agar mereka beranggapan sedang tidak terjadi apa-apa dengan diriku yang sekarang. Dan tentunya aku bisa menjalani misi pahlawan kesiangan yang di ajukan ragaku untuk menenangkan kekacauan yang sedang melanda di sekujur hidupku. Walau pasti akan ada sesuatu yang harus aku korbankan

Namun belakangan ini hatiku memaksa nalarku untuk berfikir keras perihal aku dan kehidupanku selanjutnya apakah harus menjadi objek sengsara ataukah menjadi subjek dari sengsara tersebut. Lagi dan lagi perperangan antara otak dan hatiku mulai memanas. Otakku menyuruh untuk menjadi bagian dari subjek sengsara dalam artian aku lah yang harus membalaskan dendam pada mereka-mereka yang pergi tanpa meninggalkan jejak memori. Tapi dengan bijaknya hatiku menasehatiku untuk tidak berada diantara kedua nya dia bilang itu salah kau tidak harus bagian dari itu masih ada cara lain untuk mereka agar bisa merasakan apa yang kau rasakan dulu. Memang benar apa kata hatiku tapi disisi lain otakku menolak pemahaman akan hal itu dia bilang ingat dulu bagaimana mereka memperlakukan mu secara biadab tanpa memikirkan keadaan mu saat itu dan kau harus buat mereka merasakan apa yang kau rasakan bukankah itu sebagian dari hukum alam lantas apa yang membuat kau ragu tentang apa yang telah aku sampaikan ingatlah mereka tak akan pernah jera jikalau engkau tidak memberikan pelajaran akan perihnya ditinggalkan.

Kali ini aku benar-benar diuji keimanan ku seakan-akan mengobrak-abrik keyakinan yang sudah lama tertanam didalam dada. Mau tak mau aku harus menentukan tentang apa yang harus aku pilih. Namun aku masih punya hati nurani yang memang ia selalu ada untuk menunjukkan jalan yang terbaik kedapannya. Tapi tak apalah untuk saat ini aku lebih memilih untuk mengikuti nalarku. Akan ku coba apakah ia menjalankan tugas dengan baik  atau bahkan sebaliknya yang jelas haruslah aku menjadi orang yang lebih baik dari hari ini.

Dan kembali lagi untuk rasaku yang memang masih tidak menemukan daratan untuk berlabuh dikarenakan kuatnya ombak dan badai. Biarlah akan aku tunggu karena tentulah badai pasti berlalu dan setelah itu akan ada pelangi yang akan melingkari sebagian langit biru. Untuk sekarang aku akan pergi maka teruntuk engkau berkelanalah semau mu mengembaralah sejauh mungkin nanti akan tiba masa nya aku kembali dan  akan menjemputmu. Yang tentunya ketika aku kembali nanti aku bukanlah aku yang dulu namun aku adalah aku yang baru

Air hanya perlu waktu untuk melubangi batu yang keras dan itu tidak akan lama selagi masih ada sepercik keyakinan yang dikubur bersama usaha yang tak terhenti ditengah perjalanan. Ingatlah air itu memang tidak kuat namun ia bisa meneggelamkan.  

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...