Selasa, 20 April 2021

Air Memang Tidak Kuat Namun Ia Mampu Menenggelamkan

  Untuk ku perihal segala rasa yang sedang berlayar namun masih terombang-ambing di tengah samudera, bersabarlah akan ada masa nya ia akan menepi atau bahkan karam di lautan yang tak bertepi. Kita hanya perlu waktu  menunggu ia letih untuk mengarungi luasnya samudera itu yang pada akhirnya akan menyerah karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan tersebut. Aku tak ingin lagi melihat matahari terbenam di langit yang cerah sehingga membuat senja yang sangat indah namun hanya sesaat, walau aku tau itu  pertanda bahwa semua yang indah hanya akan terjadi dalam waktu yang singkat. Namun alangkah kejamnya aku terhadap diriku ini, aku dituntut untuk menuruti prinsip ku yang keras agar bisa menjaga marwah hidup. Aku lihat kembali langit yang membentang sepanjang bola mata mampu untuk menangkap cerah hari  itu ada yang tak aku pahami dari semua ini adalah mengapa aku harus ada diposisi yang sangat tidak mengenakkan sedang sebelumnya aku masih betah berada di zona nyaman apa salahku..? apakah mungkin ini sebagian dari cara semesta untuk mengujiku ataukah ini bagian dari hukuman yang harus aku terima tanpa harus ada penjelasan terlebih dahulu  sehingga mau tak mau aku harus mengambil apa yang tak harus aku dapatkan. Aku tau dan mengerti bahwa semesta kadang suka bercanda walau kita tak siap dalam mengikuti atau mendengarkan candaan itu. Namun apa boleh buat semesta hanya menjalankan perintah.

Dan untuk kesekian kali nya kini aku merasa dipenjara dan diperbudak oleh perasaan yang kini sedang menyelimuti ku. Jiwa pun terkekang dan tak mampu untuk melawan dan memerangi bak hidupku sedang berada dimasa fatamorgana. Semuanya gelap tanpa seberkas cahaya pun yang menerangi disitulah ragaku dituntut menjadi pahlawan kesiangan untuk menjadikan dunia ku seakan-akan baik-baik saja. Sungguh tidak enak bukan.? Berpura-pura sedang baik-baik saja itu adalah hal yang sangat membosankan bahkan itu adalah hal yang sangat bodoh jika dipikirkan kembali. Lantas mengapa aku harus menjani semua ini. Aku tidak bisa, aku tidak siap. Sejujurnya, aku jika bisa memilih. Maka,  aku akan diam diantara kerumunan orang agar mereka beranggapan sedang tidak terjadi apa-apa dengan diriku yang sekarang. Dan tentunya aku bisa menjalani misi pahlawan kesiangan yang di ajukan ragaku untuk menenangkan kekacauan yang sedang melanda di sekujur hidupku. Walau pasti akan ada sesuatu yang harus aku korbankan

Namun belakangan ini hatiku memaksa nalarku untuk berfikir keras perihal aku dan kehidupanku selanjutnya apakah harus menjadi objek sengsara ataukah menjadi subjek dari sengsara tersebut. Lagi dan lagi perperangan antara otak dan hatiku mulai memanas. Otakku menyuruh untuk menjadi bagian dari subjek sengsara dalam artian aku lah yang harus membalaskan dendam pada mereka-mereka yang pergi tanpa meninggalkan jejak memori. Tapi dengan bijaknya hatiku menasehatiku untuk tidak berada diantara kedua nya dia bilang itu salah kau tidak harus bagian dari itu masih ada cara lain untuk mereka agar bisa merasakan apa yang kau rasakan dulu. Memang benar apa kata hatiku tapi disisi lain otakku menolak pemahaman akan hal itu dia bilang ingat dulu bagaimana mereka memperlakukan mu secara biadab tanpa memikirkan keadaan mu saat itu dan kau harus buat mereka merasakan apa yang kau rasakan bukankah itu sebagian dari hukum alam lantas apa yang membuat kau ragu tentang apa yang telah aku sampaikan ingatlah mereka tak akan pernah jera jikalau engkau tidak memberikan pelajaran akan perihnya ditinggalkan.

Kali ini aku benar-benar diuji keimanan ku seakan-akan mengobrak-abrik keyakinan yang sudah lama tertanam didalam dada. Mau tak mau aku harus menentukan tentang apa yang harus aku pilih. Namun aku masih punya hati nurani yang memang ia selalu ada untuk menunjukkan jalan yang terbaik kedapannya. Tapi tak apalah untuk saat ini aku lebih memilih untuk mengikuti nalarku. Akan ku coba apakah ia menjalankan tugas dengan baik  atau bahkan sebaliknya yang jelas haruslah aku menjadi orang yang lebih baik dari hari ini.

Dan kembali lagi untuk rasaku yang memang masih tidak menemukan daratan untuk berlabuh dikarenakan kuatnya ombak dan badai. Biarlah akan aku tunggu karena tentulah badai pasti berlalu dan setelah itu akan ada pelangi yang akan melingkari sebagian langit biru. Untuk sekarang aku akan pergi maka teruntuk engkau berkelanalah semau mu mengembaralah sejauh mungkin nanti akan tiba masa nya aku kembali dan  akan menjemputmu. Yang tentunya ketika aku kembali nanti aku bukanlah aku yang dulu namun aku adalah aku yang baru

Air hanya perlu waktu untuk melubangi batu yang keras dan itu tidak akan lama selagi masih ada sepercik keyakinan yang dikubur bersama usaha yang tak terhenti ditengah perjalanan. Ingatlah air itu memang tidak kuat namun ia bisa meneggelamkan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...