Minggu, 25 April 2021

My Proposal Project To God

 Tuhan, kali ini aku benar-benar mengagumi ciptaan mu itu. Begitu indah engkau mengukirnya sampai mata ini tak mampu untuk berhenti menatap. Ada kedamaian tersendiri yang menyelimuti hati. Begitu lurus jalan yang engkau berikan hingga bisa menjadi impian semua orang. Iya semua orang tentu ingin menjadi atau bahkan ingin memiliki. Bagaimana tidak, ciptaan mu itu sungguh sangat terlihat sempurna ketika engkau titipi amanah yang begitu besar bahkan tidak semua orang mampu menggenggamnya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak bisa berhenti untuk mengingatnya. Ada rasa nyaman tersendiri walau hanya sekejap melintasi. Aku bahkan tidak mampu menahan pertikaian yang ada didalam diri. Pertikaian yang terjadi karena hati dan pikiran yang tidak searah. Hati menuntutku untuk sadar bahwa  diri ini jauh sekali dengan nya. Sedangkan pikiran menyuruhku untuk bisa terus menggapainya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar bingung. Ciptaan mu yang terlampau sempurna itu membuatku enggan untuk menutup diri bahwa aku benar-benar menyukainya. Tidak kah engkau menciptakan cinta itu sebagai rahmat untuk makhluk mu?. Tidak salahkan ketika makhluk mu ini menyimpan rasa khusus kepadanya?. Bukan kah engkau lebih mengetahui nya dari pada hamba mu ini?.

Tuhan, kali ini aku benar-benar tidak ingin mati syahid hanya karena aku tidak meluapkan bendungan rasa ini pada nya. Seperti hal nya yang disabdakan oleh manusia yang paling engkau cintai. Beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Khatib Al-Baghdadi bahwa “Orang yang merindu, namun mengekang diri dan menyembunyikan rasa cinta dan rindunya,  itu tergolong sebagai mati syahid”. Walau ada yang mendhaifkan hadis ini seperti Imam Ibnu Al-Qayyim namun juga ada bantahan mengenai hadis ini bahkan sampai mengarang kitab khusus yang berjudul “Dar’u adh-Dahfi ‘An Haditsi Man ‘Asyiqa Fa’affa”. Sehingga menguatkan kevalidan hadis ini. Kitab yang hanya berisi dua puluh pasal mengenai bantahan-bantahan untuk Imam Ibnu al-Qayyim ini dikarang oleh Sayyid Ahmad bin Shiddiq al-Ghumary.

Tuhan, kali ini aku benar-benar menginginkannya. Aku hanya akan berusaha semampuku. Perihal semua nya akan ku serahkan pada mu. Tapi tentunya selain aku berbekal taqwa sebagaimana yang engkau suruh di surah al-Baqarah ayat 197 “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. maka anugerah mu yang berupa kekuatan harus lah engkau berikan agar aku bisa berjuang hingga garis akhir. Garis akhir yang nantinya akan menentukan semua di masa yang akan datang. Masa dimana aku akan kembali hidup selamanya.

Tuhan, kali ini aku benar-benar ingin memilikinya. Ciptaan mu yang begitu indah itu menuntut ku untuk bisa menjadi lebih dari hari ini. Tidakkah itu baik? Ketika salah satu orang yang engkau kasihi bisa menjalankan peran nya dengan baik. Hanya dia yang mampu membuatku tergerak untuk melupakan kelamnya masa lalu dan beranjak bangun memulainya dari awal. Tidakkah itu baik? Ketika tak ada seorang pun sebelumnya yang bisa melakukan itu.

Tuhan, kali ini aku benar-benar meminta. Bukankah engkau yang menyatakan langsung di surah al-Mukmin ayat 60 yang berbunyi “Berdoalah kepada-Ku, Niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. Aku juga telah meminta dengan cara yang telah engkau tetapkan “Berdoalah kepada tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut” di surah al-A’raf ayat 55. Dan aku pasti percaya terhadap permintaan ku karena engkau tidak pernah ingkar sebagaimana engkau telah firmankan di surah ar-Rum ayat 6 “(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Tuhan, kali ini aku benar-benar memohon. Sebagaimana memohonnya Nabi Adam ketika engkau turunkan ke muka bumi lalu engkau kabulkan yang tertera di surah al-A’raf ayat 23. Juga sebagaimana doa nabi Yunus ketika berada didalam perut ikan ada pada surah al-Anbiya ayat 87. Aku tau bahwa dikabulkannya doa diatas tidak lah cepat bahkan begitu lama. Maka tidaklah mengapa karena aku tidak menuntut untuk sekarang namun ketika sudah tepat waktunya. Atau bahkan jika ada delik yang mengatakan bahwa doa diatas adalah doa yang dilantunkan karena kesalahan yang Nabi perbuat. Maka tidaklah mengapa mungkin aku telah bersalah karena menyukai salah satu hamba mu.

Tuhan, kali ini aku benar-benar bermunajat. Semoga bisikan ini bisa langsung sampai kepadamu. Tanpa ada transit sekejap pun di hamparan langit-langitmu Atau bahkan masih dikumpulkan oleh malaikat-malaikat penjaga semestamu. Bisikan di bumi ini pasti bisa menembus langit dan arasy mu sebagaimana telah disabdakan oleh Utusan mu yang mulia kemudian diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad “bahwa doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak dan pintu-pintu langit akan dibukakan”. Demikian permohoan hamba mu, semoga dan semoga bisa terijabah dan terqobulkan. Tiada tempat lain untuk meminta selain kepada engkau yang esa.

2 komentar:

Mari Berdamai

Sebagai manusia pada umumnya. Tentu masalah akan selalu menerpa dengan sekuat yang ia mampu. Tidak lain tujuannya adalah untuk merasuki jiwa...